Ternyata di Masa Majapahit Ada Dua Orang yang Bernama Gajah Mada


Ternyata di Masa Majapahit Ada Dua Orang yang Bernama Gajah Mada

Referensi pihak ketiga

Belakangan ramai soal Mahapatih Gajah Mada yang namanya menjadi Gaj Ahmada dan disebut-sebut pula sebagai penganut agama Islam. Ternyata benar saja, Gajah Mada memang seorang muslim, tapi bukan Gajah Mada yang jadi Mahapatih, melainkan Gajah Mada yang menjabat Perdana Menteri Majapahit.

Jadi di masa Majapahit ada dua Gajah Mada, yaitu Mahapatih Gajah Mada dan Patih Arya Gajah Mada. Mereka adalah dua orang berbeda, baik latar belakang silsilahnya maupun keyakinan dalam memeluk agama.

Hal itu diungkap dalam tulisan Christoper Buyer pada website The Royal Ark, yang merangkum 14 buku sejarah yang berkaitan dengan silsilah Kesultanan Kelantan di Malaysia.

Buyer mengungkap, jika ternyata Patih Arya Gajah Mada itu adalah Ali Nurul Alam yang merupakan putra dari Sayyid Husain Jumadil Kubro, ulama besar keturunan Rasulullah yang merupakan penyebar Islam di Asia Tenggara, sekaligus pionir Wali Songo dan dimakamkan di Mojokerto. Nama Gajah Mada disematkan kepadanya di dalam silsilah Kesultanan Kelantan yang ditulis ulang Christoper Buyer.

Referensi pihak ketiga

Sedangkan ibu Ali Nurul Alam ini merupakan Putri dari Selindung Bulan, anak dari Sultan Baki Shan Bin Sultan Mahmud, Raja Chermin. Ayahnya adalah Sayyid Hussein Jumadil Kubro, pionir Wali Songo.

Jumadil Kubro juga sebelumnya menikah di Maroko dan punya anak Maulana Malik Ibrahim alias Maulana Malik Maghribi alias Sunan Gresik. Jumadil Kubro juga pernah menikah di Samarqand dan punya anak Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarqandy, alias Ibrahim Asmoro yang menikah dengan Putri Champa dan punya anak Sunan Ampel.

Artinya, Ali Nurul Alam adalah saudara tiri Sunan Gresik dan paman dari Sunan Ampel. Keluarga dan keturunan Ali Nurul Alam juga menarik untuk dicermati. Adik semata wayangnya adalah Sayyid Muhammad Kebungsuan alias Prabu Anom alias Udayaningrat alias Bhrawijaya yang dalam catatan Buyer menurunkan trah Demak, Pajang dan Mataram. Namun belum jelas Bhrawijaya yang mana.

Referensi pihak ketiga

Ali Nurul Alam punya tiga anak laki-laki. Anak pertama adalah Wan Hussain Bi Ali Nurul Alam, alias Sri Amravamsa alias Tuk Masjid. Dia diangkat menjadi patih di Majapahit.

Putra kedua adalah Sutan Maulana Syarif Abdullah Mahmud Umdatuddin, alias Syekh Israel Yakub alias Wan Bo Tri Tri. Dia menjadi Raja Champa (1471-1478) menyusul eksodus keluarga kerajaan Majapahit II dari Kelantan ke Champa karena serbuan Siam.

Semasa di Champa, Syarif Abdullah bertemu seorang putri yang datang dari Sunda bernama Nyi Mas Rara Santang alias Sharifah Mudain anak Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Mereka menikah dan dikaruniao dua anak laki-laki yaitu Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati dan Wan Abul Muzaffar Waliyullah bin Sultan Abu Abdullah yang keturunannya menjadi raja-raja Champa, Kelantan dan Patani.

Putra ketiga Ali Nurul Alam adalah Wan Demali Alimuddin bin Burulalam. Dia diangkat menjadi patih dan laksamana di Kerajaan Majapahit.

Ali Nurul Alam justru lebih banyak dipelajari sejarahnya di Malaysia. Karena dari darah keturunannya berkembang Kesultanan Kelantan yang modern. Media Negeri Jiran, Utusan Malaysia pernah menulis fitur sejarah cukup panjang tentang Ali Nurul Alam.

Referensi pihak ketiga

Utusan memberitakan dalam artikelnya betapa nama Gajah Mada yang melekat pada Ali Nurul Alam juga membuat orang bertanya-tanya apakah mereka satu orang atau dua orang, dan ternyata dua orang yang berbeda. Kemudian Utusan menjelaskan betapa Ali Nurul Alam juga penting bagi Indonesia, karena dari garis keturunannya juga lahir Kesultanan Cirebon dan Banten.

Catatan penting dari Utusan Malaysia adalah, Ali Nurul Alam disebutkan wafat di Campa tahun 1467. Dia dimakamkan di Garak Ruwain atau disebut juga Binjal Lima alias Binje Limo dalam bahasa Patani.


Sumber: detik.com/berita/3535690/

Leave a Reply