Masih Muda dan Cantik, Dokter Amalia Rela Bertugas di Pedalaman Papua, Kisah Perjuangannya pun Viral

Dokter Amalia bertugas di pedalaman Papua

Dokter Amalia bertugas di pedalaman Papua

Laporan Wartawan Grid.ID, Nindya Galuh A.

Grid.IDDokter mungkin termasuk cita-cita paling populer saat masih kanak-kanak.

Tetapi pada kenyataannya, menjadi dokter bukanlah profesi yang mudah.

Selain harus paham segala jenis penyakit yang diderita pasien, seorang dokter juga harus rela ditugaskan di daerah-daerah terpencil Indonesia.

Satu kisah yang sedang viral akhir-akhir ini adalah perjuangan dokter muda bernama Amalia Usmaianti di bumi Cendrawasih.

Kisah dokter berusia 28 tahun ini viral setelah diunggah di akun Facebook pribadinya pada 7 Juni 2018.

Dokter muda ini tugaskan di pedalaman Boven Dogoel, Papua.

Dokter Amalia merupakan lulusan Ilmu Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Ia kini tengah mengikuti program Nusantara Sehat dari Kementerian Kesehatan dan ditugaskan selama 2 tahun di Puskesmas Ninati, Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Dalam unggahannya, Amalia menceritakan perjuangannya demi menemui para pasiennya.

Ia dan timnya harus menempuh jarak belasan kilometer untuk memberikan pertolongan bagi warga sekitar.

“Perjalanan dari puskesmas Ninati menuju desa Tembutka berjarak 16 km,” tulis dokter Amalia.

Tim itu terdiri dari dirinya sebagai dokter umum, dan 6 rekannya yang merupakan perawat, bidan, ahli kesehatan lingkungan, ahli gizi, analis kesehatan, dan apoteker.

Dokter Amalia membagikan cerita ketika ia dan timnya hendak mengantarkan seorang warga dari puskesmas menuju ke desa Tembutka.

Di perjalanan, kondisi pasien tiba-tiba menurun.

Dokter Amalia kemudian memberikan terapi pada pasien di tengah jalan.

“Pasien masih di bopong berjalan, 400 meteran jalan, pingsan.

Kami membuat tandu untuk mengangkat pasien,” ujar dokter Amalia.

Dokter Amalia dan timnya membuat tandu untuk pasien di jalanan berlumpur

Dokter Amalia dan timnya membuat tandu untuk pasien di jalanan berlumpur

Karena hari semakin beranjak gelap dan jarak untuk kembali ke puskesmas cukup jauh, dokter Amalia dan timnya nekat melanjutkan perjalanan.

Bahkan mereka tak menghiraukan risiko akan bertemu dengan ular di tengah perjalanan.

Dokter Amalia juga menyebutkan bagaimana warga sekitar harus berjuang demi mendapatkan pengobatan layak.

Warga desa biasanya lebih memilih berobat ke Papua Nugini dengan berjalan kaki.

Padahal tidak ada akses jalan yang memadai.

Jalanan di 5 kampung pada distrik yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini ini belum diaspal.

“Banyak masyarakat sakit yg dibopong keluarganya sendiri, namun mereka tidak punya alat untuk merekam kepedihan yg mereka rasakan selama puluhan tahun,” terang dokter Amalia.

Saat ini, puskesmas tempat Amalia bertugas hanya memiliki 3 staf, yakni kepala puskesmas, bidan, dan perawat.

“Tapi (mereka) jarang di tempat, karena kami (Tim Nusantara Sehat) stay di tempat,” ujar dia pada Kompas.com.

Ia mengungkapkan, masyarakat di pedalaman tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan dunia luar karena terbatasnya piranti dan jaringan komunikasi yang memadai.

“Untuk jaringan, tergantung cuaca.

Kalau hujan ada petir, hilang sinyal, kami naik-naik pohon buat cari sinyal,” kata Amalia.

Tak hanya akses jalan, keterbatasan air dan listrik juga jadi masalah tersendiri di Distrik Ninati.

Amalia menambahkan, ketersediaan listrik di Ninati yang disuplai dari tenaga solar juga tidak dapat dipastikan waktunya.

Untuk hidup sehari-hari, mereka mengandalkan hasil bertanam dan mencari ikan di sungai.

Selain itu, mereka juga menerima dana bantuan dari pemerintah setiap 3 bulan sekali.

(*)

Leave a Reply